Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Oleh : Ghozy Mohammad Al
Ghozali
Tingkat literasi
Indonesia di dunia termasuk rendah, yaitu menempati ranking ke 62 dari 70
negara atau berada dalam 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi
rendah.
Oleh karena itu
pentingnya meningkatkan budaya literasi dalam peningkatan pendidikan
berkarakter sangat berperan penting untuk kemajuan bangsa. Budaya literasi
adalah suatu budaya di dalam masyarakat yang meliputi segala usaha manusia yang
berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis.
Tujuan budaya literasi
adalah menciptakan tradisi berpikir yang diikuti oleh proses membaca dan
menulis sehingga menciptakan karya tulis ilmiah yang berdaya guna.
Budaya literasi sangat
berperan penting dalam peningkatan pendidikan karakter pada setiap manusia.
Karakter merupakan ciri khas yang dimiliki oleh tiap -tiap orang yang
menyangkut hal kepribadian, sikap, dan tingkah laku terhadap lingkungan di
sekitarnya.
Pembentukan karakter
anak melalui masing-masing jalur pendidikan sangat penting untuk diterapkan
dalam pendidikan formal, informal, dan non-formal. Salah satu contohnya yaitu
mengenai budaya literasi yang diajarkan pada anak sejak usia dini, sehingga
melalui pendidikan karakter pada anak akan membentuk pribadi menjadi lebih baik
lagi.
Tujuan adanya budaya
literasi diharapkan masyarakat dapat lebih memahami suatu informasi hingga
membentuk pola pikir kritis, sehingga masyarakat memiliki wawasan yang luas
serta pendidikan karakter yang baik.
Suatu perwujudan untuk
membentuk karakter bisa melalui budaya literasi, sehingga literasi bisa menjadi
faktor utama dalam meningkatkan kualitas seseorang. Seiring dengan majunya
teknologi membuat semakin mudahnya mendapatkan suatu informasi secara kilat,
sehingga budaya literasi dapat diterapkan kapanpun dan dimanapun oleh
masyarakat.
Akan tetapi kemajuan
teknologi tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan karena beberapa orang
tidak memanfaatkan teknologi dengan baik, hal tersebut yang menjadi faktor
utama rendahnya tingkat literasi di Indonesia.
Beberapa upaya telah
pemerintah lakukan untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia agar
masyarakat dapat menemukan, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi
literasi dengan baik.
Baru-baru ini
Kemendikbudristek mengembangkan enam jenis literasi untuk membiasakan budaya
literasi pada masyarakat yaitu literasi baca tulis, literasi saing, literasi
sains, literasi finansial, literasi digital, literasi numerisasi, serta
literasi budaya. Bahkan Kementrian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi
telah menjadikan literasi digital sebagai kurikulum 2013 sejak 2019, serta
modul literasi digital untuk sekolah dasar pada tahun ini.
Sudah cukup banyak
upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Tetapi
sebanyak apapun upaya pemerintah jika masyarakatnya tidak ada kemauan untuk
belajar, maka tingkat literasi tetap rendah. Oleh karena itu masyarakat dan
pemerintah harus bekerja sama untuk meningkatkan budaya literasi, misalnya
masyarakat dapat memanfaatkan akses-akses kemudahan untuk mengembangkan
literasi.

